TfClBUdoGUM6BSO0TfYlGUziBY==

Negeriku yang Penuh Derita, Santri Penjaga Harapan Bangsa

Pembacaan Puisi oleh : Diah Suzani Santri Daarul Musthofa Tanjung Jaya Pengalihan, sumber foto; Dok. Media. 

BERITAINHIL.COM - TEMBILAHAN ; Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, yang berlangsung di Lapangan Gajah Mada Tembilahan, Senin (26/10/2026), menghadirkan pesan mendalam tentang kondisi bangsa melalui sebuah puisi berjudul “Negeriku yang Penuh Derita”.

Puisi tersebut menggambarkan kegelisahan terhadap berbagai persoalan negeri, mulai dari kehidupan petani dan nelayan, kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, hingga tanggung jawab para pemimpin dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Di balik kritik yang disampaikan, puisi ini membawa pesan tentang pentingnya keimanan, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab dalam membangun bangsa.

Para santri juga diingatkan bahwa mereka merupakan bagian penting dari masa depan Indonesia. Dengan bekal ilmu, iman, dan akhlak, generasi santri diharapkan mampu menjadi penerus bangsa yang amanah serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa mencintai negeri bukan sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan berani memperbaiki diri dan berkontribusi nyata demi Indonesia yang lebih baik.

Berikut puisi “Negeriku yang Penuh Derita”:

NEGERIKU YANG PENUH DERITA

Tanah surga yang Tuhan titipkan,

Kini menangis di bawah langitnya sendiri.

Kelapa tumbuh di kebun yang subur,

Tapi petani menangis karena harga tak jujur.

Laut luas membentang biru,

Tapi nelayan pulang dengan perahu kosong dan lesu.

Hutan terbentang luas, namun yang tampak hanya abu sisa kebakaran.

Negeriku yang penuh derita,

Anak-anak sekolah dengan atap bocor,

Belajar mengeja kata "merdeka",

Sementara di kota, janji-janji dijual obral.

Kulihat gedung-gedung tinggi menjulang,

Di bawahnya, ada yang tidur tanpa kasur,

Tanpa dinding, tanpa cahaya.

Kulihat jalan-jalan diaspal mulus,

Tapi hati pemimpinnya masih berbatu.

Ya, negeriku sedang sakit,

Sakit oleh tangan-tangan yang rakus,

Sakit oleh kita yang terlalu diam dan acuh.

Ada apa denganmu, wahai negeriku?

Kenapa bencana silih berganti, sambung-menyambung tak kunjung henti?

Tak mungkin Allah mengirim bencana kalau tak ada dosa yang kita perbuat.

Hai para petani, dosa apa yang engkau perbuat sehingga kebakaran hutan tak kunjung usai?

Hai para nelayan, masih adakah engkau merusak laut sehingga Allah mengirimkan banjir?

Hai para pedagang, masih adakah kecurangan yang engkau lakukan sehingga musibah terus berdatangan?

Hai para pengusaha, adakah praktik riba yang engkau lakukan sehingga Allah murka?

Hai para orang kaya, sudahkah engkau memberi haknya orang miskin pada hartamu?

Hai para TikToker, masih seringkah engkau mengumbar aurat sehingga Allah tidak mengijabah doa-doa?

Hai para pelajar, masih adakah engkau melawan para gurumu, melaporkan gurumu dan mengintimidasi gurumu sehingga ilmu hanya di otak, tak sampai ke hati?

Hai para dokter, dosa apa yang engkau perbuat, kenapa musibah silih berganti?

Hai para hakim, masih adakah hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah sehingga Allah marah?

Hai para pemangku jabatan, masih adakah hak-hak rakyat yang belum engkau tunaikan sehingga bencana tak kunjung henti?

Belum mampukah sejarah menuntunmu untuk berbuat baik?

Tidak maukah jejakmu ditulis dengan tinta emas sebagai panutan?

Sehebat apa pun engkau sekarang, pada akhirnya hanya akan dikenang: baikkah atau burukkah engkau?

Hai para santri...

Hai para santri...

Hai para santri...

Dengarkan baik-baik...

Di tanganmulah harapan bangsa.

Di tanganmulah harapan negeri.

Sepuluh, dua puluh tahun ke depan, engkaulah yang akan mengisi tatanan negeri ini.

Maka bekalilah dirimu dengan iman dan takwa.

Jika engkau menjadi petani, maka jadilah petani yang beriman.

Jika engkau menjadi nelayan, jadilah nelayan yang beriman.

Jika engkau menjadi pedagang, maka jadilah pedagang yang beriman.

Jika engkau menjadi polisi, maka jadilah polisi yang beriman.

Jika engkau menjadi pengusaha, maka jadilah pengusaha yang beriman.

Jika engkau menjadi dokter, maka jadilah dokter yang beriman.

Jika engkau menjadi tentara, maka jadilah tentara yang beriman.

Jika engkau menjadi pejabat, maka jadilah pejabat yang beriman.

Jika iman landasannya, maka damailah negeri ini.

Negeri ini memang sedang sakit.

Negeri ini memang sedang menderita.

Tapi di balik derita itu,

Masih ada harapan...

Masih ada santri yang menghafal Qur'an di sudut desa,

Masih ada santri yang tulus berdoa.

Masih ada kiai yang tulus memberi tanpa pamrih:

"Makanlah, Nak... makanlah, Nak..."

Pondok tidak pernah meminta-minta,

Tapi pondok perlu dibantu dan diperjuangkan.

Masih ada cinta yang belum mati.

Duhai negeriku,

Aku tidak akan meninggalkanmu,

Karena deritamu adalah deritaku juga.

Jika bukan kita yang mengobati,

Lalu siapa lagi?

Tertanda,

SANTRI YANG CINTA NEGERI

Comments0

Type above and press Enter to search.