![]() |
| Kera liar yang diamankan oleh tim gabungan Pemkab Inhil, sumber foto: (Facebook). |
BERITAINHIL.COM – TEMBILAHAN ; Setelah melakukan upaya pencarian selama sekitar tujuh jam, tim gabungan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) akhirnya berhasil menangkap seekor kera liar yang diduga berkaitan dengan serangkaian serangan terhadap warga di Kelurahan Tembilahan Ilir, Kamis (6/8/2026).
Selama kurang lebih dua pekan terakhir, serangan kera liar tersebut telah meresahkan masyarakat dan menyebabkan sedikitnya 18 warga mengalami luka akibat gigitan maupun serangan satwa tersebut.
Keberhasilan penangkapan dilakukan menggunakan perangkap yang dimodifikasi dari kandang ular milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Inhil. Perangkap tersebut dipasang setelah tim melakukan koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau.
Kepala DPKP Kabupaten Inhil, Junaidi Ismail, mengatakan seluruh proses penanganan dilakukan sesuai prosedur dengan melibatkan instansi yang berwenang menangani satwa liar.
"Tim melakukan koordinasi dengan BKSDA Provinsi Riau sebagai langkah penanganan resmi. Kandang ular milik Dinas Pemadam Kebakaran kemudian dimodifikasi menjadi perangkap dan dipasang sekitar pukul 08.00 WIB di Jalan Tampomas, Parit 14," ujar mantan Kepala Disparporabud Kabupaten Inhil itu.
Upaya tersebut membuahkan hasil sekitar pukul 14.15 WIB ketika seekor kera berhasil masuk ke dalam perangkap.
Meski demikian, Junaidi menegaskan belum dapat dipastikan apakah satwa yang berhasil diamankan merupakan kera yang menyerang warga selama ini.
"Kera yang berhasil diamankan akan dibawa ke Pekanbaru untuk diidentifikasi oleh BKSDA. Hasil identifikasi itulah yang akan memastikan apakah benar satwa tersebut merupakan kera yang menyerang permukiman warga atau bukan," jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan di lapangan, populasi kera di kawasan tersebut diperkirakan masih mencapai puluhan ekor. Selain itu, asal-usul satwa tersebut juga belum dapat dipastikan, apakah benar-benar satwa liar atau hewan peliharaan yang lepas.
"Masih banyak informasi yang beredar di masyarakat. Karena itu, seluruh proses penanganan dilakukan secara terpadu dan berdasarkan hasil verifikasi agar informasi yang disampaikan benar-benar akurat," katanya.
Sementara itu, Camat Tembilahan, Ari Syuria, mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat dalam operasi penanganan tersebut. Menurutnya, keberhasilan penangkapan merupakan hasil koordinasi yang baik antara seluruh pihak.
"Alhamdulillah, berkat koordinasi dan kerja sama seluruh pihak, proses penanganan dapat berjalan dengan lancar. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah terlibat," ujar Ari.
Ia menjelaskan, hingga pukul 14.15 WIB, tim gabungan telah berhasil mengamankan satu ekor kera liar yang diduga kuat berkaitan dengan serangan terhadap warga. Namun, pemerintah masih menunggu hasil identifikasi resmi dari BKSDA sebelum menyimpulkan bahwa satwa tersebut merupakan pelaku utama.
"Saat ini BKSDA masih melakukan identifikasi dengan mencocokkan ciri fisik satwa, keterangan para saksi dan korban, serta pola serangan yang terjadi. Karena itu kami meminta masyarakat menunggu hasil resmi sebelum menarik kesimpulan," katanya.
Berdasarkan laporan warga, kera yang menyerang memiliki ciri wajah cekung dan diduga merupakan jenis kera berekor pendek. Identifikasi tersebut juga akan memastikan apakah hanya satu ekor yang terlibat atau masih ada satwa lain yang berkeliaran di sekitar permukiman.
Pemerintah Kabupaten Inhil mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak mencoba menangkap atau memburu kera secara mandiri karena berpotensi memicu perilaku satwa yang lebih agresif. Warga juga diminta segera melaporkan kepada tim gabungan apabila kembali melihat keberadaan kera di sekitar permukiman.
Selain itu, masyarakat diimbau mengaktifkan kembali kegiatan siskamling serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi hingga hasil identifikasi resmi dari BKSDA diumumkan.
Saat ini tim gabungan yang terdiri dari DPKP Kabupaten Inhil, BKSDA Provinsi Riau, TNI, Polri, BPBD, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, PMI, para relawan, serta unsur terkait lainnya masih bersiaga dan terus melakukan pemantauan di lokasi. Hasil identifikasi BKSDA nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.


Comments0