BERITAINHIL.COM - TEMBILAHAN ; Perpustakaan daerah selama ini dikenal sebagai garda terdepan layanan informasi publik.
Namun di balik fungsi mulia tersebut, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka: banyak pustakawan yang merasa kontribusi mereka tidak sebanding dengan apresiasi yang mereka terima dari institusi tempat mereka mengabdi.
Fenomena ini menarik perhatian Rina Sri Rahayu, mahasiswa S2 Manajemen Universitas Lancang Kuning, yang mengkaji dinamika organisasi perpustakaan melalui lensa Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory/SET).
Teori ini dikembangkan oleh George Homans (1961), Peter Blau (1964), dan Richard Emerson (1972), yang menyatakan bahwa hubungan dalam organisasi dibangun atas dasar prinsip timbal balik — individu akan berkontribusi optimal ketika mereka merasa apa yang diberikan sebanding dengan apa yang diterima.
"Ketika pustakawan dituntut menguasai sistem digital, melayani lebih banyak pengguna, dan menjalankan fungsi administratif sekaligus — tapi tidak mendapat pelatihan, pengakuan, atau insentif yang memadai — maka yang terjadi bukan kelalaian, melainkan ketidakseimbangan pertukaran yang sistemik."
Menurut Rina, persoalan di perpustakaan daerah bukan sekadar soal anggaran atau infrastruktur.
Akarnya jauh lebih dalam: relasi antara individu dan organisasi yang tidak saling menghargai.
Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) tahun 2022 mencatat bahwa 62,4 persen ASN di Indonesia belum memiliki kompetensi digital yang memadai.
Sementara Perpustakaan Nasional RI (2021) menemukan hanya 34 persen pustakawan daerah yang mampu mengoperasikan sistem manajemen perpustakaan digital secara mandiri.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik.
Bagi Rina, ini adalah cerminan dari pertukaran yang berjalan timpang. Pustakawan terus diminta beradaptasi, sementara organisasi belum cukup berinvestasi pada pengembangan mereka.
"Dalam teori Homans, perilaku yang tidak mendapat reward akan berhenti dengan sendirinya. Jika pustakawan tidak mendapat dorongan nyata untuk berkembang secara digital, wajar kalau motivasi mereka pun ikut melemah."
Ia juga menyoroti lemahnya norma timbal balik dalam struktur birokrasi perpustakaan yang cenderung hirarkis.
Emerson (1972) menyebutnya sebagai power-dependency imbalance — ketika satu pihak terlalu bergantung pada pihak lain tanpa adanya keseimbangan kekuatan. Pustakawan yang tidak punya ruang untuk menyuarakan kebutuhan atau terlibat dalam pengambilan keputusan, lama-kelamaan kehilangan rasa memiliki terhadap organisasinya.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, Rina menawarkan tiga gagasan berbasis SET yang ia sebut Program PERTUKARAN BERMAKNA.
Pertama, organisasi harus membangun sistem apresiasi yang nyata — bukan sekadar piagam tahunan, melainkan pengakuan berbasis kinerja yang terhubung langsung dengan pengembangan karier.
Kedua, pelatihan kompetensi digital harus menjadi hak, bukan hadiah.
Ketiga, pustakawan perlu dilibatkan dalam keputusan strategis, terutama yang menyangkut pengadaan teknologi dan perancangan layanan.
"Transformasi perpustakaan tidak bisa dimulai dari teknologi. Ia harus dimulai dari manusianya — dari rasa percaya bahwa organisasi peduli pada pertumbuhan mereka."
Sementara itu, Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM., dosen pembimbing Rina, menilai kajian ini relevan dan kontekstual.
Menurutnya, pendekatan Teori Pertukaran Sosial selama ini lebih banyak diterapkan di sektor korporasi, sehingga aplikasinya pada organisasi publik seperti perpustakaan daerah menjadi kontribusi akademik yang segar dan penting.
"Kajian ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat perpustakaan dari sisi layanan, tapi juga dari sisi keadilan relasional di dalamnya.
Dan itu adalah pertanyaan manajemen yang sangat mendasar."
Rina berharap kajiannya dapat menjadi bahan refleksi bagi para pimpinan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah di seluruh Indonesia — bahwa membangun perpustakaan yang baik bukan hanya soal koleksi buku atau koneksi internet, tetapi soal memastikan setiap pustakawan merasa bahwa kerja keras mereka benar-benar dihargai.
Penulis : Rina Sri Rahayu
Prodi : S2 Manajemen, Universitas Lancang Kuning
Pembimbing : Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM.


Comments0